Friday, April 16, 2010

AKSARA SUMATERA SELATAN “ KAGANGA”










AKSARA SUMATERA SELATAN “ KAGANGA”
Aksara Kaganga Indonesia
Sejarah Aksara Kaganga dan Sang Bumi Ruwa Jurai



Kepulauan Sumatera pernah didatangi bangsa Yunan dari daratan Indo-Cina pada abad Sebelum Masehi. Bangsa ini sebelum datang secara besar-besaran, mereka masuk Nusantara dengan kelompok-kelompok kecil.

Mereka membawa berbagai kebudayaan antara lain falsafah/ajaran Buddha dan aksara/tulisan kaganga. Khusus di Lampung sekarang dikenal dengan tulisan Lampung karena pada zaman modern ini Lampunglah yang lebih dulu mengangkat aksara kaganga tersebut. Adapun daerah Lampung dahulu merupakan kesatuan dengan daerah pusat Kerajaan Saka di sebelah selatan Bukit Barisan dalam wilayah Sumatera bagian selatan, yaitu Kerajaan Aji Sai dekat Danau Ranau, Lampung Barat sekarang. Di Sumatera bagian selatan, khususnya di Sumatera Selatan, aksara kaganga dikenal dengan nama tulisan ulu dalam wilayah pedalaman Batanghari Sembilan di Jambi, dikenal dengan nama tulisan encong, di Aceh dengan tulisan rencong, di Sumatera Utara/Batak dengan tulisan pustaha/tapanuli.

Di wilayah kepulauan nusantara ini yang memakai tulisan kaganga hanya di Pulau Sumatera dan Sulawesi (ada 22 wilayah) dan di luar wilayah tersebut memakai tulisan/aksara pallawa/hanacaraka yang berasal dari India sesudah masuk abad Masehi bersama dengan ajaran/falsafah Hindu, yang kemudian hari berkembang di Pulau Nusa Kendeng/Pulau Jawa sekarang dan Bali. Di pusat Kerajaan Saka/Aji Sai, raja-rajanya adalah titisan penjelmaan Naga Sakti/Nabi Khaidir a.s., dalam rangka mengemban tugas Tuhan Yang Maha Esa dengan menurunkan hukum inti Ketuhanan (falsafah Jaya Sempurna) sepanjang zaman. Jadi masuknya bangsa Yunan terjadi beberapa tahap yang jaraknya berabad-abad serta membaur dengan penduduk asli Nusantara (yaitu Kerajaan Saka/Aji Sai) yang merupakan cikal bakal Kerajaan Sriwijaya kecil di wilayah pedalaman Bukit Barisan sebelah barat, yaitu Bukit Raja Mahendra (Raje Bendare). Di Pagar Alam Lahat, tepatnya di antara perbatasan 3 provinsi; Lampung, Sumatera Selatan dan Bengkulu lokasi tersebut sampai saat ini belum terungkap dan masih merupakan misteri bagi bangsa Indonesia. Untuk mengungkapnya perlu dipelajari tulisannya, yaitu kaganga atau pallawa (hanacaraka).

[b]Asal Nama Sumatera[/b]

Dalam catatan sejarah yang ada hingga saat ini, Pulau Sumatera ini ditemukan Angkatan Laut Kerajaan Rau (Rao) di India yang bernama Sri Nuruddin Arya Passatan tahun 10 Saka/88 Masehi yang tercantum dalam Surat Peninggalan pada Bilah Bambu tahun 50 Saka/128 M yang ditandatangani Ariya Saka Sepadi, bukan Sri Nuruddin Angkatan Pertama yang datang dari Kerajaan Rao di India.

Karena tidak ada kabar beritanya angkatan pertama, dikirim angkatan kedua yang dipimpin langsung Putra Mahkota Kerajaan Rao di India Y.M. Sri Mapuli Dewa Atung Bungsu tahun 101 Saka/179 Masehi. Dengan 7 armada (kapal), mereka berlabuh di daratan Sumatera tepatnya di Pulau Seguntang atau Bukit Seguntang sekarang di Palembang, Y.M. Sri Mapuli Atung Bungsu memerintahkan Arya Tabing, nakhoda kepal penjalang untuk mendirikan pondokan dan menera (menimbang) semua sungai yang berada di wilayah Pulau Seguntang tersebut. Demi mengikuti amanat Ayahanda Kerajaan Rao di India, berganti-ganti air sungai ditera (ditimbang) Arya Tabing atas titah Y.M. Sri Mapuli Dewa Atung Bungsu, sebelum Arya Tabing menimbang semua air sungai, beliau bertanya kepada YM, sungai mana yang harus ditera (ditimbang), dijawab YM, semua Tera (yang maksudnya semua air sungai yang ada ditimbang). Dari kata-kata beliau itulah asal nama Sumatera hingga saat ini yang tercatat dalam surat lempengan emas tahun 10 Saka/88 Masehi serta surat dari bilah bambu pada tahun 101 Saka/179 Masehi yang sampai saat ini belum ditemukan bangsa Indonesia, dan berkemungkinan sekali bertuliskan/aksara kaganga atau pallawa/hanacaraka di wilayah Sumetera bagian selatan. Setelah ditimbang angkatan Arya Tabing, didapatlah air sungai/Ayik Besemah dari dataran tinggi Bukitraja Mahendra Mahendra (Bukit Raje Bendare) mengalir ke barat dan bermuara di Sungai Lematang wilayah Kota Pagar Alam (Lahat).

[b]Sejarah Adat[/b]

Adat pepadun sai batin terbentuk pada abad ke-17 tahun 1648 M oleh empat kelompok/buay, yaitu Buay Unyai di Sungai Abung, Buay Unyi di Gunungsugih, Buay Uban di Sungai Batanghari dan Buay Ubin (Subing) di Sungai Terbanggi, Labuhan Maringgai. Adat pepadun sai batin ini masih ada pengaruh dari Hindu dan Buddha dan diadakan atau dibentuk di Goa Abung (Kubu Tanah) di dekat perbatasan Buay Ubin (Subing) Kota Batu, Ranau sekarang. Di sana ada lima buah kursi dari batu tempat sidang adat tersebut. Adat pepadun sai batin dibentuk atas prakarsa dari Raja Saka (Aji Sai) yang bernama/bergelar Pangeran Sang Aji Malihi yang pada waktu itu daerah pedalaman Lampung dalam wilayah kekuasaannya. Suatu saat sidang akan dilaksanakan Pangeran Sangaji Malihi terlambat datang karena beliau lebih dulu menjemput adik angkatnya yang bernama Putri Bulan (Anak Bajau Sakti/Raja Jungut) dikenali Bukit Pesagi untuk diajak menghadiri pembentukan sidang adat tersebut. Saat sidang akan dimulai Putri Bulan bertanya kepada Sangaji Malihi sidang apakah ini? Putri Bulan tidak dikenal keempat peserta sidang (empat buay) yang merupakan utusan kelompok masing-masing wilayah. Sangaji Mailahi menjawab akan membentuk adat.

Keempat bersaudara dari 4 buay tersebut merasa sangat tertarik melihat Putri Bulan adik angkatnya Sangaji Malihi dari Pesagi tersebut, sehingga rapat/sidang ditunda sejenak karena terjadi keributan di antara mereka. Untuk mengatasi keributan itu, Sangaji Malihi memutuskan Putri Bulan dijadikan adik angkat dari mereka berempat. Setelah meninggalkan daerah Goa Abung, mereka menyebarkan adat ke daerah pedalaman Lampung sekarang. Buay Unyai pada puluhan tahun kemudian hanya mengetahui sidang adat pepadun sai batin diadakan di daerah Buay Unyai dan sebagai Raja Adat, Raja Hukum, Raja Basa (Bahasa) adalah Sangaji Malihi yang kemudian hari dijuluki masyarakat sebagai Ratu Adil. Buay Bulan (Mega Pak Tulangbawang) pada permulaan abad ke-17 Putri Bulan bersuamikan Minak Sangaji dari Bugis yang julukannya diambil dari kakak angkatnya Sangaji Malihi (Ratu Adil).

Empu Riyo adalah keturunan Buay Bulan di Buay Aji Tulangbawang Tengah dan Makam Minak Sangaji dan Putri Bulan ada di belakang Kecamatan Tulangbawang Tengah dan Makam Minak Sangaji dan Putri Bulan di Buay Aji Tulangbawang Menggala (sekarang). Di antara keturunan Raja Jungut/Kenali Pesagi keturunan Buay Bulan ada di Kayu Agung, keturunan Abung Bunga Mayang dari Mokudum Mutor marga Abung Barat sekarang.

Daerah lima Kebuayan dan buay-buay lainnya di Lampung sekarang, kecuali Lampung Selatan dan Bengkulu sebelah utara bertakluk kepada Raja Aji Sai tahun 1640 (Pangeran Sangaji Malihi). Menak Masselem dari Buay Unyai Putra Menak Paduka Bageduh (Ratu Gajah) yang bergabung Banten tahun 1680 karena terjadi perselisihan antara anak cucu Menak Paduka Bageduh. Jadi adat pepadun sai batin merupakan satu kesatuan (two in one) yang tidak terpisahkan satu sama lainnya karena arti/makna dari pada kata atau kalimat pepadun sai batin adalah pepadun = musyawarah/mufakat, dan sai batin = bersatu/bersama. Jadi kata pepadun sai batin adalah musyawarah mufakat untuk bersama bersatu dalam rangka sidang adat tahun 1648 di Goa Abung (Kubu Tanah) Kota Batu Ranau dekat perbatasan Buay Ubin, Lampung Barat sekarang.

Pembentukan adat tersebut diprakarsai Sangaji Malihi yang bergelar Ratu Adil yang oleh masyarakat saat itu sebagai Raja Adat, Raja Hukum dan Raja Basa.

Dan kemudian hari sejarah adat pepadun sai batin terbagi menjadi 2 kelompok/jurai, yaitu Lampung sai = pepadun dan aji sai = sai batin, yang kemudian kita kenal sebagai lambang Sang Bumi Ruwa Jurai (pepadun sai batin). Fakta/bukti autentik piagam logam tahun 1652 Saka/1115 H atau tahun 1703 M yang bertuliskan Arab gundul dan aksara pallawa/hanacaraka ada pada penulis sebagai salah satu keturunan Sangaji Malihi. Jadi adat pepadun sai batin itu berarti musyawarah mufakat untuk bersatu/bersama dalam pembentukan Adat.

Dalam waktu dekat ini anggota Tim Pakar Aksara Kaganga Indonesia dari Sumatera bagian Selatan akan melaksanakan Lokakarya Aksara Kaganga Indonesia di Bandar Lampung sebagai tuan rumah penyelenggaraan kegiatan tersebut karena Provinsi Lampung-lah yang mengangkat aksara kagama selam Indonesia merdeka.

Tujuan kegiatan tersebut untuk segera mengangkat sejarah leluhur tempo dulu dengan memasyarakatkan membaca tulisan aksara kaganga yang ada di Sumatera dan Sulawesi.

[b][u]Keterangan/Kata Rani Siji[/u]:[/b]

Pepadun = Musyawarah/mufakat
Sai batin = Bersatu/bersama
Lampung sai = Kita bersatu/mereka bersatu
Aji sai = Saya satu/ini satu
Sang Bumi Ruwa Jurai = pepadun saibatin (satu kalimat) musyawarah untuk bersatu

Udara dalam Museum Balaputra Dewa di Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (28/9) siang, cukup gerah. Asap dari kebakaran lahan dan hutan yang menyerbu Palembang dua hari ini ikut masuk ke ruang pamer koleksi. Suasana makin menyesakkan napas karena debu dari bangunan museum yang tengah direhabilitasi juga beterbangan dan menyelinap masuk museum.

"Ini dua gelumpai, naskah beraksara ulu atau kaganga yang ditorehkan di atas bilah-bilah bambu. Museum punya tujuh naskah lagi, dua di antaranya ditulis di atas kulit kayu yang disebut kahas," kata Kepala Tata Usaha Museum Balaputra Dewa, M Taufik, yang tampak terganggu dengan asap dan debu yang menyerbu ruang pameran itu.

Dua naskah yang sudah diterjemahkan Pamong Budaya Ahli Museum Balaputra Dewa, Rafanie Igama, itu tersimpan baik dalam ruang berdinding kaca. Salah satu naskah yang telah diterjemahkan berbentuk huruf-huruf yang miring kanan atas dan patah-patah, yang ditorehkan di atas 14 bilah bambu. Naskah berasal dari Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumsel.

Naskah itu menceritakan sosok Nabi Muhammad dan ajaran Islam. Meski beraksara ulu, teks menggunakan bahasa Jawa dari masa Kesultanan Palembang Darussalam abad ke-17-19 Masehi. "Itu salah satu dari naskah yang sudah diterjemahkan. Masih banyak yang belum dikaji dan masih banyak lagi yang disimpan masyarakat," kata Rafanie.

Aksara ulu atau kaganga menjadi kekayaan budaya masyarakat tepian sungai di Sumatera bagian selatan, yang antara lain mencakup Sumsel, Bengkulu, dan Lampung. Diperkirakan, aksara itu tumbuh sejak abad ke-12 Masehi dan berkembang pesat pada abad ke-17-19 Masehi. Tulisan itu banyak digunakan untuk menyampaikan ajaran agama, ilmu kedokteran, petuah, dan kearifan lokal lain.

Keberadaan aksara itu menunjukkan, budaya tepian sungai memiliki tradisi intelektualisme cukup tinggi. Lebih unik lagi, aksara kaganga masih digunakan sebagian warga di Bengkulu, seperti di Kabupaten Seluma, Bengkulu Selatan, Kaur, Lebong, dan Kabupaten Rejang Lebong.

Aksara itu disebut ulu karena banyak berkembang dalam masyarakat yang tinggal di hulu sungai di pedalaman. Para peneliti asing kerap menyebutnya kaganga karena pedoman aksaranya menggunakan huruf ka, ga, nga, dan seterusnya. Aksara ini memiliki 19 huruf tunggal dan delapan huruf pasangan. Huruf-huruf ditulis dengan ditarik ke kanan atas sampai sekitar 45 derajat.

Menurut peneliti ahli Museum Negeri Bengkulu, Sarwit Sarwono, aksara kaganga dikembangkan setelah aksara palawa. Kaganga banyak digunakan masyarakat kelas menengah, seperti keluarga pesirah, dukun, kaum intelektual, dan kaum agama. Di Museum Negeri Bengkulu saat ini terdapat 124 naskah kaganga.(ilham khoiri)

Lampung Post; 29 September 2008


Masyarakat Sumatera Selatan telah memiliki budaya tulis yang tinggi jauh sebelum masa Kerajaan Sriwijaya. Kini budaya tulis yang iwujudkan dalam sistem aksara tersebut di ambang punah. Salah satu penyebabnya, para pewaris naskah kuno cenderung mengkeramatkan benda tersebut. Terdorong oleh perasaan takut akan hilangnya budaya tulis Sumsel, Ahmad Bastari Suan (61) seorang guru SMP Srijayanegara Palembang terus bergerilya untuk melestarikan budaya tulis setempat.

Ahmad adalah salah satu dari sedikit orang di Sumsel yang mampu membaca dan mengartikan Surat Ulu atau Naskah Ulu yang ditulis dalam aksara Kaganga.

Istilah Surat Ulu atau Naskah Ulu dipakai untuk menyebut naskah kuno yang hanya ditemukan di daerah pedalaman Sumsel atau disebut daerah Ulu. Naskah tersebut tidak ditemukan di daerah pesisir Sumsel seperti Palembang

Menurut Ahmad Bastari, cara membaca aksara Kaganga dipelajarinya tahun 1973 dari seorang kakek bernama Senoetoep yang saat itu usianya lebih dari 100 tahun. Kebetulan kakek Senoetoep tinggal di Dusun Sadan, Kecamatan Jarai tak jauh dari Dusun Ahmad.

揝aya tertarik belajar aksara Kaganga setelah melihat dinding rumah kayu di kampung saya banyak tulisan dengan aksara Kaganga yang ditulis memakai kapur. Saya berpikir alangkah ruginya kalau tidak bisa membaca aksara itu," kata Ahmad.

Mempelajari aksara Kaganga tidak terlalu sulit. Ahmad memastikan seseorang sudah bisa membaca aksara Kaganga hanya dengan belajar selama satu bulan.

Aksara Kaganga bentuknya menyerupai huruf paku yang runcing. Bentuk-bentuk huruf mirip aksara Kaganga yang sudah ditemukan pada peninggalan zaman megalitikum di Sumsel. Misalnya di Desa Gunung Megang, Kabupaten Lahat terdapat peninggalan megalitikum yang disebut Batu Kitab karena terdapat goresan-goresan mirip aksara Kaganga.

揅ikal bakal aksara Kaganga diperkirakan sudah ada sejak tahun 200 Masehi. Itu terbukti dengan adanya penemuan batu bertulis dengan aksara mirip aksara Kaganga," kata Ahmad.

Penulisan aksara Kaganga semakin maju. Aksara Kaganga tidak lagi digoreskan di atas batu namun dalam perkembangannya digoreskan di bilah bambu yang disebut Gelumpai, ada juga digoreskan di ruas bambu yang disebut Surat Buluh, di tanduk kerbau, dan ada juga di kulit kayu yang disebut Kitab Kakhas. Bentuk Kitab Kakhas sudah menyerupai buku karena dilipat sedemikian rupa menyerupai buku.

Menurut Ahmad, aksara yang mirip aksara Kaganga bisa ditemukan sejak dari pedalaman Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumsel, Lampung, Sulawesi Selatan, bahkan sampai ke Filipina.

Bahkan, naskah La Galigo dari Sulawesi Selatan diyakini menggunakan aksara yang mirip aksara Kaganga. Anehnya di sepanjang pesisir timur Sumatera seperti Medan, Riau, Jambi, Palembang, dan Bangka tidak ditemukan aksara Kaganga tapi ditemukan aksara Arab Melayu.

揂ksara Kaganga di Sumsel dibagi menurut daerah asal dan usianya. Menurut daerah asal ada aksara Kaganga Besemah, Lembak (sekitar Lubuklinggau), Kayu Agung, Ogan (sepanjang Sungai Ogan dan Sungai Komering), Enim (sekitar Muara Enim), dan Rambutan (sekitar Banyuasin). Sedangkan menurut usianya ada aksara tua dan muda," kata Ahmad.

Aksara Kaganga terdiri dari 28 huruf yaitu ka, ga, nga, pa, ba, ma, ca, ja, nya, sa, ra, la, ta, da, na, kha, ha, mba, ngga, nda, nja, mpa, ngka, nta, nea, kha, wa, ya yang dilengkapi sejumlah tanda baca.

Pada aksara Kaganga dengan dialek Komering akhiran semua huruf dibaca a (ka ga nga), pada dialek Kayu Agung dibaca ?(k?g?ng?, pada dialek Besemah dan Ogan dibaca e (ke ge nge), pada dialek Lintang dan Serawai (Lampung) dibaca o (ko go ngo). Sedangkan menurut bentuknya yang ditulis dengan gaya runcing dan ada yang agak melengkung. Aksara Kaganga mirip aksara Jepang dan China, yaitu satu huruf bisa mewakili beberapa huruf sekaligus atau satu suku kata.

Mengenai isi Surat Ulu, Ahmad menjelaskan isinya beraneka ragam mulai silsilah keluarga, mantra-mantra, pengobatan, tuah untuk ayam sebelum disabung, ramalan tentang nasib dan sifat manusia, dan lain-lain.

揂ksara Kaganga tidak berkembang kemungkinan karena terdesak oleh aksara Palawa dan semakin terdesak oleh aksara Arab Melayu. Setiap daerah di Sumsel punya dialek dan bentuk huruf sendiri, kemungkinan karena antarsuku tidak pernah berinteraksi. Ini berbeda dengan di Sumatera Utara dan Lampung yang hanya ada satu jenis huruf," kata Ahmad.

Dikeramatkan tapi di daerah pedalaman seperti Pagar Alam, Lahat, Kayu Agung, dan Ogan Komering Ulu.

Hambatan yang terbesar dalam melestarikan Surat Ulu justru datang dari para pewaris Surat Ulu yang disebut Jurai Tui. Para Jurai Tui menganggap Surat Ulu itu sebagai barang keramat yang tidak boleh dipegang oleh sembarang orang.

揚ada umumnya Surat Ulu itu hanya jadi barang simpanan dan diselimuti hal-hal gaib serta mistik. Saya pernah bermaksud meminjam Surat Ulu untuk dipelajari tapi saya malah dimarahi. Sikap seperti itu yang membuat sejarah kebudayaan Sumsel tertutup," kata Ahmad.

Oleh karena sikap tertutup itu, Ahmad tidak memiliki satu pun salinan Surat Ulu yang pernah dilihatnya dari sejumlah pewaris Surat Ulu. Ahmad hanya bisa membuktikan bahwa Surat Ulu itu benar-benar ada.

揝aya sering diejek ketika keluar masuk kampung untuk melihat peninggalan megalitikum yang ada di tengah hutan. Katanya untuk apa, bikin kotor baju saja. Kesadaran budaya masyarakat begitu rendah sedangkan pemerintah juga kurang peduli. Penyebabnya karena masyarakat sekarang berpikir materialistis," kata Ahmad.

Untuk menjaga kelestarian Surat Ulu, Ahmad telah menyusun panduan cara membaca Surat Ulu dalam bentuk lembaran-lembaran kertas yang belum dijilid dalam bentuk buku. Kekhawatiran akan punahnya Surat Ulu semakin meningkat karena para pewaris Surat Ulu biasanya menyimpan Surat Ulu di sembarang tempat sehingga semakin cepat hancur dimakan usia.

Selain hancur dimakan usia, ada Surat Ulu yang hilang atau sengaja dihancurkan oleh pewarisnya karena tidak tahu manfaatnya. Ada juga Surat Ulu yang dihancurkan karena dulu takut jatuh ke tangan Belanda atau Jepang.

揢paya melestarikan Surat Ulu di Sumsel seharusnya dengan memasukkan aksara Kaganga dalam mata pelajaran muatan lokal. Saya tidak bisa mengajarkannya di sekolah karena harus berpedoman pada kurikulum sedangkan di kurikulum tidak ada. Lagipula ada banyak tipe aksara Kaganga di Sumsel, harus ditentukan mana yang akan diajarkan. Saya tidak tahu kapan cita-cita itu terwujud," ujar Ahmad.

Sepengetahuan Ahmad di Sumsel hanya tiga orang yang bisa membaca aksara Kaganga selain dirinya yaitu Suwandi yang tinggal Lubuk Linggau dan Pamong Budaya Ahli pada Museum Balaputradewa, Palembang Rafanie Igama yang saat ini sedang menempuh pendidikan S2 di Yogyakarta.

Saat ini beberapa Surat Ulu berupa Surat Buluh dapat dilihat di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II dan kitab Kakhas dapat dilihat di Museum Balaputradewa. Sebagian besar Surat Ulu masih tersimpan di Perpustakaan Nasional Jakarta.

揔alau tidak ada yang menyayangi Surat Ulu dan aksara Kaganga, saya takut suatu waktu kekayaan budaya Sumsel ini hilang," kata Ahmad.

[url]http://kompas.com/kompas-cetak/0708/...ok/3763565.htm[/url]

[b]Aksara Kaganga[/b]

Aksara Kaganga merupakan sebuah nama kumpulan beberapa aksara yang berkerabat di Sumatra sebelah selatan. Aksara-aksara yang termasuk kelompok ini adalah antara lain aksara Rejang, Kerinci, Lampung, Rencong dan lain-lain.

Nama kaganga ini merujuk pada ketiga aksara pertama dan mengingatkan kita kepada urutan aksara di India dan terutama dalam bahasa Sansekerta.

Aksara Batak atau Surat Batak juga berkerabat dengan kelompok ini. Diperkirakan jaman dahulu di seluruh pulau Sumatra dari Aceh di ujung utara sampai Lampung di ujung selatan, menggunakan aksara yang berkerabat dengan kelompok aksara Kaganga ini. Tetapi di Aceh dan di daerah Sumatra Tengah (Minangkabau dan Riau), yang dipergunakan sejak lama adalah huruf Jawi.

Perbedaan utama antara aksara Kaganga dengan aksara Jawa ialah bahwa aksara Kaganga jauh lebih sederhana daripada aksara Jawa.

Aksara Kaganga diperkirakan berkembang dari aksara Pallawa dan aksara Kawi yang digunakan oleh kerajaan Sriwijaya di Sumatra Selatan.

Sarwit, Peneliti Aksara Kaganga
Rabu, 10 Maret 2010; Helena F Nababan


Seperti ungkapan ”tak kenal maka tak sayang”, demikianlah hubungan Sarwit Sarwono (52) dan aksara kaganga. Sebelumnya, dia tak tertarik aksara itu. Kini, dia menjadi salah satu ahli aksara kaganga, aksara asli warga di kawasan hulu Sungai Musi dan beberapa daerah lain di Sumatera Selatan, Lampung, dan Kerinci di Provinsi Jambi. Sarwit adalah peneliti aksara kaganga dan pengajar di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan (FKIP) Universitas Bengkulu.

Setelah puluhan tahun Sarwit mengamati, aksara itu ternyata merupakan perkembangan aksara palawa dan kawi yang berkembang di pedalaman Musi hingga disebut juga aksara Ulu. Naskah-naskah kuno berbahasa daerah setempat yang tertulis dalam aksara kaganga juga disebut Naskah Ulu atau Surat Ulu.

Aksara kaganga merupakan aksara yang tergabung dalam rumpun Austronesia. Ia berkerabat dengan aksara Batak dan Bugis. Itu sebabnya bentuk kaganga yang seperti paku runcing mirip aksara Batak, Bugis, atau Lampung.

Tahun 1986 di Bengkulu, Sarwit awalnya hanya tertarik sastra Indonesia modern. Perkenalan pertamanya dengan aksara kaganga terjadi pada 1988.

Syukri Hamzah, sesama pengajar di FKIP, adalah sosok yang memperkenalkannya pada kaganga. Ketika itu, Sarwit belum terlalu tertarik pada aksara yang cara penulisannya miring ke kanan hampir 45 derajat itu. Namun, perkenalannya terus berlanjut.

Tahun 1989, Nur Muhammad Syah, mahasiswanya, memberi dia beberapa salinan Surat Ulu dari naskah kuno yang aslinya tercetak di atas kulit kayu (kakhas) milik Abdul Hasani (almarhum), mantan pesirah (kepala marga) di Curup, Bengkulu.

Kesempatan mengenal aksara kaganga makin terbuka saat Sarwit berkesempatan mengikuti program kerja sama Indonesia—Belanda di bidang pengkajian Indonesia. Program itu diselenggarakan Departemen Pendidikan Nasional tahun 1990.

Berawal dari bertemu, berkenalan, dan mengkaji, Sarwit kemudian mengenal lebih dalam aksara yang dinamai dari tiga aksara pertama, yakni ka, ga, nga, dari total 28 aksara itu. Di Leiden, Belanda, ia kaget saat tahu ratusan spesimen Surat Ulu beraksara kaganga tersimpan di sana. Ia juga menemukan belasan spesimen naskah kuno sejenis yang tersimpan di Perancis dan belasan lainnya di Jerman.

”Saat itu saya betul-betul cemburu dalam arti positif. Kenapa orang luar bisa begitu antusias mempelajari naskah-naskah kuno kita, sedangkan kita sendiri sangat kurang peduli?” ujarnya.

Temuan itu menyadarkan dia. Spesimen-spesimen itu adalah kekayaan budaya Indonesia, Bengkulu, dan sekitarnya khususnya. Manuskrip itu menandakan budaya baca dan tulis masyarakat Indonesia sudah lebih maju pada masa itu.

Belajar dan meneliti

Sarwit yang lahir di Tegal, Jawa Tengah, tentu lebih terbiasa dengan bahasa dan aksara Jawa daripada aksara kaganga. Namun, ”dendam” positif terhadap banyaknya naskah kuno Bengkulu di Belanda memacu hasratnya. Ia mempelajari betul aksara kaganga.

Ketika itu, penelitian aksara lebih banyak dilakukan pada bahasa Batak, Bugis, dan Jawa. Penelitian tentang kaganga belum ada. Ia ingin penelitian, pembelajaran, dan pelestarian kaganga semaju aksara Batak.

Sarwit juga mempelajari bahasa-bahasa daerah di Bengkulu, seperti bahasa Serawai, Rejang, Lembak, dan Pasemah atau Muko-muko. Hal itu karena sebagian besar naskah kuno yang tersimpan di Belanda berisi tulisan dengan aksara kaganga dalam berbagai bahasa tersebut. Ia juga membaca sejumlah manuskrip dan membuat microfilm dari manuskrip-manuskrip itu.

Di Belanda pula ia bertemu dengan Profesor Petrus Voorhoeve, ahli aksara Batak dan Surat Batak yang juga bisa membaca aksara kaganga. Dengan Voorhoeve, Sarwit bertukar pikiran dan menimba ilmu.

Kembali ke Indonesia tahun 1992, Sarwit menerapkan ilmunya di jurusan tempatnya mengajar. Sampai 1996, dia mendapat tugas membantu Museum Negeri Bengkulu.

Sebagai peneliti, dia diminta mengidentifikasi dan membaca naskah-naskah kuno beraksara kaganga koleksi museum. Sekitar 128 naskah kuno beraksara kaganga terus dia baca, pelajari, dan telaah. Naskah-naskah kuno itu berbentuk kulit kayu, bilah bambu, gelondongan bambu, tanduk, kertas, dan rotan.

Sarwit mendapati banyak kearifan lokal dan ajaran, di antaranya pengobatan tradisional dari tumbuh-tumbuhan, aturan pernikahan, kesantunan atau etika pergaulan dan berorganisasi, silsilah keluarga, pergaulan muda-mudi, sampai ajaran Islam.

Menurut Sarwit, kearifan lokal itu sebetulnya masih bisa diterapkan. ”Namun, karena kepedulian masyarakat kurang, nilai-nilai tradisi dan kearifan lokal nenek moyang masyarakat Bengkulu itu kurang dipahami dan diterapkan.”

Naskah-naskah kuno itu biasanya diturunkan dari kepala marga atau pasirah kepada keturunannya. Orang yang menerima lalu menganggapnya sebagai benda pusaka sehingga harus memotong kambing atau mengadakan selamatan bila ingin membuka naskah kuno tersebut.

Karena takut, warga biasanya tak ingin mengetahui isi naskah kuno itu. Mereka menyimpannya asal saja, tanpa teknik penyimpanan yang tepat, sehingga keberadaan naskah kuno itu terancam rusak atau lenyap.

Pelestarian

Dari penelitiannya, Sarwit mendapati tradisi tulis dalam aksara kaganga terhenti awal abad XX. Seharusnya, pemerintah bertindak untuk meneruskan tradisi, atau setidaknya upaya memasukkan aksara kaganga dalam kurikulum sebagai penjagaan sejak dini.

Ia mencatat, tahun 1988 di Kabupaten Rejang Lebong ada upaya memasukkan kaganga dalam kurikulum. Sayang, keterbatasan tenaga pengajar membuat pembelajaran kaganga tak optimal.

Sampai kini, tenaga pengajar di sekolah hanya tahu membaca dan menulis kaganga, tetapi kurang memahami budaya Bengkulu.

”Pengajaran masih sederhana, sekadar bisa menulis dan membaca,” ujarnya.

Kemauan kuat dari pemerintah daerah untuk melestarikan kaganga masih dibutu*kan, di antaranya, dengan menyediakan bahan ajar aksara kaganga dan bahasa daerah yang cukup, serta menyediakan para pengajar yang juga memahami budaya Bengkulu.

Sebagai langkah awal, tahun 2002, Sarwit membuat terobosan dengan menciptakan sistem pembacaan aksara kaganga pada komputer. Aksara kaganga itu dibuat sesuai bahasa daerah yang mengenal aksara kaganga. Maka, ada varian aksara kaganga Ogan, aksara kaganga Lembak, aksara kaganga Ulu, hingga aksara kaganga Serawai.

SARWIT SARWONO

• Lahir: Tegal, Jawa Tengah, 12 November 1958
• Istri: Ngudining Rahayu (49)
• Anak: - Andika - Himavan - Vidyadhara - Mahendra - Adisvara
• Pendidikan:
- Peserta Program Kerja sama Indonesia-Belanda untuk Pengkajian Indonesia 1990-1992 di Leiden, Belanda
- Tengah mengikuti S-3 Ilmu-ilmu Sosial di Universitas Airlangga, Surabaya
• Pekerjaan:
- Dosen Bahasa dan Sastra Daerah pada Jurusan Bahasa dan Seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan (FKIP) Universitas Bengkulu
- Ketua Lembaga Penelitian Universitas Bengkulu

Udara dalam Museum Balaputra Dewa di Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (28/9) siang, cukup gerah. Asap dari kebakaran lahan dan hutan yang menyerbu Palembang dua hari ini ikut masuk ke ruang pamer koleksi. Suasana makin menyesakkan napas karena debu dari bangunan museum yang tengah direhabilitasi juga beterbangan dan menyelinap masuk museum.

"Ini dua gelumpai, naskah beraksara ulu atau kaganga yang ditorehkan di atas bilah-bilah bambu. Museum punya tujuh naskah lagi, dua di antaranya ditulis di atas kulit kayu yang disebut kahas," kata Kepala Tata Usaha Museum Balaputra Dewa, M Taufik, yang tampak terganggu dengan asap dan debu yang menyerbu ruang pameran itu.

Dua naskah yang sudah diterjemahkan Pamong Budaya Ahli Museum Balaputra Dewa, Rafanie Igama, itu tersimpan baik dalam ruang berdinding kaca. Salah satu naskah yang telah diterjemahkan berbentuk huruf-huruf yang miring kanan atas dan patah-patah, yang ditorehkan di atas 14 bilah bambu. Naskah berasal dari Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumsel.

Naskah itu menceritakan sosok Nabi Muhammad dan ajaran Islam. Meski beraksara ulu, teks menggunakan bahasa Jawa dari masa Kesultanan Palembang Darussalam abad ke-17-19 Masehi. "Itu salah satu dari naskah yang sudah diterjemahkan. Masih banyak yang belum dikaji dan masih banyak lagi yang disimpan masyarakat," kata Rafanie.

Aksara ulu atau kaganga menjadi kekayaan budaya masyarakat tepian sungai di Sumatera bagian selatan, yang antara lain mencakup Sumsel, Bengkulu, dan Lampung. Diperkirakan, aksara itu tumbuh sejak abad ke-12 Masehi dan berkembang pesat pada abad ke-17-19 Masehi. Tulisan itu banyak digunakan untuk menyampaikan ajaran agama, ilmu kedokteran, petuah, dan kearifan lokal lain.

Keberadaan aksara itu menunjukkan, budaya tepian sungai memiliki tradisi intelektualisme cukup tinggi. Lebih unik lagi, aksara kaganga masih digunakan sebagian warga di Bengkulu, seperti di Kabupaten Seluma, Bengkulu Selatan, Kaur, Lebong, dan Kabupaten Rejang Lebong.

Aksara itu disebut ulu karena banyak berkembang dalam masyarakat yang tinggal di hulu sungai di pedalaman. Para peneliti asing kerap menyebutnya kaganga karena pedoman aksaranya menggunakan huruf ka, ga, nga, dan seterusnya. Aksara ini memiliki 19 huruf tunggal dan delapan huruf pasangan. Huruf-huruf ditulis dengan ditarik ke kanan atas sampai sekitar 45 derajat.

Menurut peneliti ahli Museum Negeri Bengkulu, Sarwit Sarwono, aksara kaganga dikembangkan setelah aksara palawa. Kaganga banyak digunakan masyarakat kelas menengah, seperti keluarga pesirah, dukun, kaum intelektual, dan kaum agama. Di Museum Negeri Bengkulu saat ini terdapat 124 naskah kaganga.(ilham khoiri

2 comments: